Sepenggal Kisah "menerima"

Di ruang yang kini tak lagi berpenghuni, aku mencoba mencari jejak yang pernah tersembunyi. Menyusuri setiap jengkal kenangan yang telah hilang; terpendam oleh masa yang telah usai. Langkahku mulai membongkar keping-keping kehampaan yang tercampakkan. Bukan maksud untuk membandingkan, hanya saja ingin mencari sebuah renungan. 

Bahkan aku tak ingin menyalahkan siapapun, entah pada alam atau mereka yang mempunyai kuasa. Sebab aku dan kami telah cukup menerima dengan lapang dada. Tak ada lagi sesal atau kecewa yang singgah bermuara. Yang ada hanya bahagia terlepas dari beban yang memenjara. 

 Jangan khawatir, aku masih akan mendengar tawa bahagia yang selalu menggema dari arahmu, lalu mengalun masuk rongga telinga. Membiarkan bersemayam dan mengulang kembali gemericik tawa itu. Mari jalani hidup masing-masing. Aku dengan langkahku, dirimu dengan langkahmu. Sambut rahasia yang sedang ada di bibir mata. 

Di sini, akan ku jadikan ruang taman kebahagiaan yang penuh kenangan. Melukiskan kisah tentang masa kebersamaan. Jangan ragu untuk menyapa, sebab kita masih saudara. Mungkin dirimu sudah tak menganggap itu ada. Tapi tak apa, aku akan menganggap itu semua ujian perjalanan. Biar ruang dan semesta yang menjadi saksinya. Bahwa aku masih di sini dengan sejuta cerita yang akan kubagikan.